Linkwithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
loading...

Rabu, 24 September 2014

Kakehan gludhug kurang udan

Banyak orang di muka bumi ini menyia-nyiakan waktu sehingga tampak sia-sia.  Termasuk kakehan gludhug kurang udan “terlalu banyak bicara tetapi tidak ada kenyataannya.”

Orang suka banyak omong. Ya tapi hanya sekedar sesuatu sing ra penting (yang tidak penting) atau ngomong ora ono maknane gur golek senenge (berbicara tidak ada maknanya, Cuma sekedar mencari kesenangan)


Termasuk yang terjadi pada diri kita dan tanpa sadar dan terpikirkan oleh kita telah ngobrol atau ngomong yang mubazir sampai-sampai lidah keseleo dalam berkata yang bernada menghardik, menghujat, mencerca, mencemooh sehingga bisa menyakiti perasaan orang lain.

Goro-goro ngomong ra penting atau berbicara yang tidak penting dan berguna, imbasnya sangat besar dan sungguh luar biasa bahayanya. Selain rugi waktu yang di firmankan Allah dalam Qur’an Surat Al Asr,

(1) Demi masa (2)sungguh, manusia berada dalam kerugian (3)kecuali orang-orang yang beriman  dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. [QS. Al Asr 1-3]
Nah, sudah rugi waktu lagi. Selain dari rugi waktu juga bisa menimbulkan permusuhan, perpecahan, perselisihan hingga berujung jatuhnya korban.

Rasulullah berkata, “barangsiapa yang beriman kepada  Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam”. [HR. Muttafaq ‘alaih]
Perlu kita ketahui dan di pahami betul lho ya. Nasihat Rasulullah SAW tersebut nek gur ngomong thok gampang, tapi anggere di amalke tenanan ora gampang (kalau sekedar bicara saja memang mudah, tapi kalau di amalkan dengan benar tidaklah mudah).

Tahu setan? Iya setan, setan selalu saja menggoda manusia hingga menjadikan lidahnya “keseleo” sehingga terlalu banyak bicara tapi tidak kenyataannya atau dalam istilah lain tidak sesuai dengan kenyataannya ngapusi, ngolok-ngolok, ngelek-ngelekke uwong (menipu, mengolok-olok, menjelek-jelekkan orang) dan lain-lain sebagainya.

Kenapa kok bisa terjadi yang demikian itu? Sehingga ngomongnya melampaui batas. Mungkin firman Allah ini bisa menjadi acuannya,

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena merasa bahwa dirinya serba cukup.
[QS. Al-Alaq 6-7]
Selain dari firman Allah ada pula poin-poin penting yang mungkin harus kita telaah bagi setiap masing diri dari kita.

Berkata dari sumber  yang ”katanya dan katanya”

Mungkin berapa banyak orang dapet informasi yang sumber dari katanya, katanya dan katanya sampai-sampainya sumbernya tidak jelas dari mana berasal. Kalaupun di telusur  berita yang sumber dari katanya dan katanya tidaklah berujung. Sehingga jika di jadikan sebagai bahan pembicaraan tidak ada kenyataannya atau malah sia-sia bahkan bisa menimbulkan fitnah. Anehnya banyak orang percaya sumber dari kata-katanya termasuk berita infotaiment, gosip murahan.

Bahkan Rasulullah SAW bersabda, “sesungguhnya Allah mengharamkan tiga hal, dan melarang tiga hal. Dia mengharamkan durhaka kepada ayah, mengubur anak-anak perempuanhidup-hidup serta menahan dan meminta. Dan dia melarang dari tiga hal : katanya dan katanya, banyak bertanya (yang tidak perlu) dan menghambur-hamburkan harta.” [HR. Muslim juz 3, hal. 1341]
Ghibah Sesuatu yang Fakta

Banyak dari kita sering berpikir, menceritakan keadaan sesuatu dari saudara kita, teman kita, sahabat kita yang memang betul adanya itu namanya bukan menggunjing (ghibah).

Padahal Rasulullah SAW bersabda ketika beliau di tanya oleh para sahabatnya tentang arti ghibah. “ghibah ialah kamu menyebut tentang saudaramu dengan apa-apa yang dia tidak suka”

Dan ketika itu ada sahabat yang bertanya, “bagaimana pendapat engkau jika keadaan saudarakuitu memang betul-betul seperti apa yang aku katakan? Rasulullah SAW bersabda, “jika keadaan saudaramuitu betul seperti apa yang kamu katakan, maka sungguh kamu telah berbuat ghibah kepadanya. Dan jika (apa yang kamu katakan itu) tidak ada padanya, maka berarti kamu telah berbuat buhtan (kebohongan) kepadanya”.  [HR. Muslim juz 4, hal. 2001]

Berbohong Sebagai Bahan Guyonan

Ketika bercanda atau sekedar berguyon, lidah kita seringkali “keseleo” bukan? Kesannya agar terdengar lucu. Misal, aku baru saja makan nasi. Terus ada orang berkomentar “ati-ati eneng bakterine lho” padahal tidak merasakan apa-apa dalam makanan tersebut. Celetukan seperti ini juga mungkin sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari kita. Canda seperti ini biar membuat suasana tawa dengan sisipan kebohongan.
Candaan yang bermuatan bohong dan yang kita candai itu tahu. Kalau hal ini hanya sekedar bercanda, meskipun bercanda sekalipun, di larang dalam islam.

Rasulullah SAW bersabda, saya menjamin dengan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun bergurau”. [HR. Baihaqi, dengan sanad hasan, di dalam At-Targhiib wat-Tarhiib juz. 589]

Ngobrol sia-sia

Kita percayakan? Yang nama mengobrol itu pasti akan menghabiskan banyak waktu. Kadang-kadang tema dalam ngobrol itu tidak jelas dan tidak beraturan. Ngobrol lebih kaya mudharat miskin manfaat yang hanya berisi guyonan, cekakan, canda-candaan sampai menggunjing saudara yang lain.
Saiki kie wes ra akeh sing ngobrol masalah yang ada manfaatnya. Misalkan tentang hasil mendengarkan ceramah ustadz di masjid atau musholla ataupun sehabis dari tholabul ‘ilmi. Rasane ngobrol masalah  seperti adalah hal paling berat, kecuali kalau diskusi khusus di forum-forum tertentu.
Saking penake ngobrol ngalor-ngidul sehingga kita terlena untuk sesuatu. Terlalu banyak bicara tetapi tidak ada kenyataannya. (kakehan gludhug kurang udan). Sehingga berhati-hatilah kalau mau ngomong jangan sampai memfitnah, berkata bohong, ghibah, dan lain sebagainya.


banner

15 ulasan:

  1. Berarti ngomong itu harus hati-hati, kalau tidak bisa lebih baik diam... betul

    BalasPadam
    Balasan
    1. Adi Pradana : ya betul sekali mas Adi Pradana. bukannya ini juga ada di firman Allah bukan? thank sudah mampir

      Padam
  2. Balasan
    1. aprie : oh ya? kalo hujannya lebat sekali juga sukak ya? sampai-sampai bisa banjir gitu? tapi gapapalah. thanks udah mampir

      Padam
  3. bagaimana kalau menceritakan sesuatu yang berdasarkan fakta, dengan dimaksudkan agar dapat diambil hikmahnya? nama yang diceritakan di samarkan, apa itu bentuk ghibah juga?

    BalasPadam
    Balasan
    1. Rebellina Santy : sah-sah saja kok mbak santy. apablila itu kedepannya bisa menginspirasi dan dapat mengambil hikmah. dan namanya di samarkan bukan kategori ghibah. tapi hal itu juga hrs di waspadai juga. begitulah mbak santy. syukrannnn....

      Padam
  4. Wahh bener juga jadi banyak belajar nih hehe mantap ^-^, sekarang saya mau hati" dan kalo ngomong dan nulis hehe ^-^

    BalasPadam
    Balasan
    1. angkisland : saya doain ye.. semoga tetep mantap atineee,,, lan nambah tenang tentremmm wesss... syukron kang angkisland

      Padam
  5. Jadi meski hati-hati dalam berucap...jangan sampai menyinggung begitu ya? kalau gamau disalahin mending diem...

    Salam kenal...
    http://liswanti627.blogspot.com/2014/08/tamplok-aseupan.html

    BalasPadam
    Balasan
    1. Liswanti Pertiwi : iya betul sekali buk lis.. kalao ra ahline ngomong ngga usah ngomong plin-plan lebih baik jaga mulut, hati dan pikiran kitaaa... thanks you..

      salam saya kembali kepada bu liswanti

      Padam
  6. Wah iyo, nek kakean gludug gak udan udan podo karo ghoro! :)

    BalasPadam
    Balasan
    1. Elang wicakso : mangsute apa kang elang? kurang ngerti deh..

      Padam
  7. Saya tertarik dengan judulnya, bagus gan. Saya tahu bahasa jawa makanya ngerti :)

    BalasPadam
    Balasan
    1. Muhamad Hanafi : ngaku-nagku aja... deh bung hanafi ini .. berapa persen ngertinya ya????

      Padam
  8. Memang mulutmu harimaumu.. harus di filter apa yang dinkeluarkan dari mulut kita

    BalasPadam

Manfaatkan kolom komentar ini untuk bertanya, menanggapi, menambahkan pendapat, dan tempat kita berdiskusi.

Hanya Komentar Cerdas yang Akan Diterima